Obat Asam Urat dan Awet Muda

Obat Asam Urat dan Awet Muda
Obat Asam Urat dan Awet Muda

Senin

BOLEHKAH MEMILIH PEMIMPIN YANG TIDAK SEAGAMA



Jika saya tidak keliru, masyarakat tergantung agama penguasaanya adalah terjemah dari ungkapan “Bapak Sosiologi” Ibnu Khaldun. Dalam bahasa aslinya berbunyi “an-Nasu al dini Mulukihim”. Hemat saya, kata din di sini tidak berarti agama dalam pengertian yang umum. Ungkapan ini bermaksud menggambarkan betapa seorang penguasa dapat mewarnai masyarakatnya, dan betapa dia ikut bertanggung jawab membina mereka. Kalau dia baik masyarakatnya akan baik, demikian pula sebaliknya. Ungkapan ini dapat dibuktikan kebenarannya, secara sederhana, dengan melihat situasi satu kelompok. Jika pemimpinnya shalat, atau menghadiri satu upacara, pegawai-pegawainya pun akan segan untuk tidak hadir. Demikian juga sebaliknya. Ini karena pemimpin atau yang berkuasa sering cenderung disegani atau diteladani. Budaya Barat yang melanda masyarakat dunia, juga dapat menjadi bukti kebenaran ungkapan itu. Bukankah orang cenderung berpihak dan mengikuti yang kuat dan menang.

Ungkapan tersebut tidak berkaitan dengan toleransi beragama. Kegiatan agama yang bersifat ritual dari seorang yang bersifat ritual dari seorang pemimpin—tidak boleh diikuti pleh pengikutnya. Akan tetapi, ini bukan berarti kegiatan sosial yang direstui agama masing-masing tidak dapat diikuti. Bukankah al-Qur’an memerintahkan kita untuk bekerja sama dalam kebaikan? Memilih pemimpin yang bukan Muslim tidak terlarang, selama membawa manfaat untuk semua. Penunjuk jalan yang memimpin Nabi saw. ketika berhijrah ke Madinah adalh non-Muslim. Memang, ada ayat yang menyatakan, Hai orang-orang yang beriman , janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah kami terangkan kepada ayat-ayat (kami), jika kamu memahaminya (QS. Ali Imran [3] 118).

Akan tetapi, larangan ini dikaitkan dengan sebabnya seperti terbaca di atas. Oleh karena itu, pakar tasfir Rasyid Ridha menulis ketika menafsirkan ayat di atas, demikian: “Bahwa kemudahan yang diajarkan al-Qur’an inilah yang dipraktikan oleh “ Umar bin Khaththab dengan menyerahkan kepemimpinan perkantoran kepada orang-orang Romawi (yang bukan Muslim ketika itu). Kebijakan serupa diambil oleh kedua khalifah sesudahnya (Utsman dan Ali ra). Demikian juga yang diterapkan oleh Dinasti  “Abbasiyah dan penguasa-penguasa Muslim sesudah mereka. Yakni menyerahkan kepemimpinan tugas negara kepada orang Yahudi, Nasrani, dan Budha. Kerajaan Utsmaniyah pun demikian, bahkan duta-duta dan perwakilan-perwakilannya di luar negeri kebanyakan dipegang oleh orang Nasrani.” Wallahu a’lam


bisnis baru ustad yusuf mansur