Ketika Allah menguraikan
kewajiban puasa, dinyatakan-Nya sekian banyak keistimewaan puasa antara lain,
bahwa itu diwajibkan pada bulan Ramadhan, karena ketika itu al-Qur’an turun.
Allah berfirman: “(hari-hari yang ditentukan untuk berpuasa itu) adalah
beberapa hari tertentu, yakni yang terjadi di bulan Ramadhan yang ketika itu
(permulaan) al-Qur’an diturunkan. (baca QS.al_Baqarah [2]: 185)
Sementara ulama
berpendapat bahwa lebaran Idul Fitri yang kita rayakan setelah berpuasa di
bulan Ramadhan yang merupakan hari raya peletakan batu pertama ajaran islam,
karena ketika itulah permulaan al-Qur’an diturunkan, sedang hari raya Idul Adha
dijadikan peletakan batu terakhir ajaran Islam, karena ketika itu turun
firman-Nya yang menegaskan kesempurnaan ajaran Islam. Allah berfirman: “Pada
hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agama kamu, dan telah Ku cukupkan
kepada kamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam menjadi agama kamu”
(QS.al-Ma’idah [5]: 3).
Di sisi lain, kita
mengetahui bahwa bulan setelah Ramadhan adalah Syawwal, di mana kita merayakan
Idul Fitri, yakni hari kembali asal kejadian, hari kita lahir di mana ketika
itu kita tidak membawa satu dosa pun. Nabi saw bersabda: “Siapa yang
berpuasa dengan iman dan tulus, dia terbebas dari dosa bagaikan seorang yang
baru saja dilahirkan.” Setelah berpuasa sebulan lamanya kita ber-Idul
Fitri, yakni kita lahir kembali. Anda ketahui bahwa pada umumnya manusia dikandung
selama Sembilan bulan dan lahir pada bulan kesepuluh. Bulan Ramadhan merupakan
bulan kesembilan dari rentetan bulan-bulan Qomariyah, sedang bulan Syawal
adalah bulan kesepuluh. Agaknya bulan Ramadhan itu yang dipilih agar setelah
berlalu bulan kesembilan itu dengan berpuasa kita benar-benar dapat lahir
kembali terbebaskan dari semua dosa seperti halnya anak yang baru lahir.
Perlu ditambahkan bahwa
perhitungan yang mendasari datangnya bulan Ramadhan atau Syawwal didasarkan
pada peredaran bulan, bukan matahari. Jika puasa didasarkan atas perjalanan
matahari maka iklim dan suhu udara akan sama atau paling tidak serupa sepanjang
masa. Di banyak kawasan lebih lama memancarkan cahaya daripada pancaran
cahayanya di bulan Desember dan Januari. Ini berbeda dengan perjalanan bulan
yang setiap tahunnya berselisih sekitar 11 hari dari perjalanan matahari,
sehingga jika pada tahun ini masyarakat A berpuasa di musim panas yang siangnya
panjang, maka beberapa tahun mendatang mereka akan berpuasa di musim dingin
yang siangnya pendek. Demikian bergiliran sehingga suatu ketika ia akan kembali
lagi ke daur semula. Itu hikmah lain, mengapa ditetapkan pada bulan Ramadhan.
Demikian, wallahu a’lam.
bisnis baru ustad yusuf mansur
bisnis baru ustad yusuf mansur
