Rasulullah bersabda, “Dan
jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan, karena itu shalatlah di dalamnya.”
Itu sebabnya suami harus
bekerja sama dengan istri untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat ibadah,
tempat shalat dan membaca al-Qur’an, dengan catatan, suami harus tetap shalat
fardhu di masjid.
Allah memuji Isma’il a.s.
dengan firman-Nya, “Dan ceritakanlah (hai Muhammad, kepada mereka) kisah
Isma’il (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang
benar janjinya, dan dia adalah seorang rosul dan nabi. Dan ia menyuruh ahlinya
untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi
Tuhannya.” (QS. Maryam: 54-55)
Allah juga berfirman, “Dan
perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam
mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezki
kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS.
Thaha: 132)
Rasulullah bersabda,
“Allah merahmati seorang lelaki yang bangun malam lalu melaksanakan shalat,
kemudian membangunkan istrinya, dan si istri ikut shalat. Jika ia menolak,
suami memercikkan air di wajahnya. Allah juga merahmati seorang wanita yang
bangun malam untuk melaksanakan shalat, lalu membangunkan suaminya dan si suami
ikut shalat. Jika suami menolak dibangunkan, istrinya memercikkan air di
wajahnya.”
Seperti itulah kondisi
rumah para salafussaleh.
Orang yang melihat
rumah-rumah kaum muslimin sekarang di tengah malam akan berduka cita dan
berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!”
Kebanyakan kaum muslimin
kecuali yang dirahmati Allah tidak begadang kecuali untuk menonton televisI,
film, dan maksiat lainnya. Padahal pada waktu yang sama, para salafussaleh kita
dulu begadang untuk melaksanakan shalat tahajud, zikir, dan membaca al-Qur’an.
Karena itu, mari kita mohon kepada Allah agar mengembalikan umat ini ke jalan
yang benar.